Monday, March 16, 2009

ARJUNA DI PINGGIRAN BINASA



Tatkala angin malam berlalu dingin kalbu menikam jiwa
Perlahan ku hembus nafas lanjut yang kuhela

Tertikam dek sembilu prelude epilogi duka

Pertapa nan membisu lantang seribu bahasa.


Simpati ku tinggal bersama hamparan alur duka
Terhenti langkah pendita laksana bibit bibit bicara

Tenggelam dalam gelita tanpa ku singkap ertinya

Sendiri aku menyepi sang rembulan menyuluh cahaya


Amarah menyelubungi hati api lancip nirwana
Hujan yang tiada henti namun baranya tetap menyala

Titip titip gemuruh tiada siapa yang menyapa

Hati yang tertutup terlerai segala bencana


Bisikan gelora sang teruna si dara sudah tiada ertinya
Rindu seloka berlagu kabut senja yang melara

Hampir ku terhambur kata kata cela dan dosa

Akhirnya yang ku tanggung semua sakit derita.


~penglipurduka~