
Tatkala angin malam berlalu dingin kalbu menikam jiwa
Perlahan ku hembus nafas lanjut yang kuhela
Tertikam dek sembilu prelude epilogi duka
Pertapa nan membisu lantang seribu bahasa.
Simpati ku tinggal bersama hamparan alur duka
Terhenti langkah pendita laksana bibit bibit bicara
Tenggelam dalam gelita tanpa ku singkap ertinya
Sendiri aku menyepi sang rembulan menyuluh cahaya
Amarah menyelubungi hati api lancip nirwana
Hujan yang tiada henti namun baranya tetap menyala
Titip titip gemuruh tiada siapa yang menyapa
Hati yang tertutup terlerai segala bencana
Bisikan gelora sang teruna si dara sudah tiada ertinya
Rindu seloka berlagu kabut senja yang melara
Hampir ku terhambur kata kata cela dan dosa
Akhirnya yang ku tanggung semua sakit derita.
~penglipurduka~

